Puisi Tentang Alam Lengkap | Koinilmu.com

Hai sobat koinilmu.com, pada kesempatan ini saya akan menulis tentang puisi nih.

puisi juga berisikan hal-hal yang indah disetiap ukiran katanya. Kareba hal inilah, puisi dijadikan sebagai salah satu media dunia seni dalam mengekspresikan diri.

Diantara tema puisi yang bisa ditulis adalah puisi tentang alam. Alam dapat diartikan sebagai sebuah potret ciptaan tuhan yang maha besar.

Aalam juga mengisahkan segala bentuk cerita yang tak dimiliki oleh setiap orang, setiap orang memiliki cerita tersendiri dengan alamnya. Karena itu, alam tampak begitu indah dan mempesona.

Senja, Keindahan Yang Tak Terganti

“Siang mulai berganti

Warna langit pun berubah menjadi jingga

Burung-burung silih berganti terbang di tengah warna jingga yang kian melebur di langit sana

Siapa saja yang melihatnya, akan takjub dibuatnya

Waktu terus berlari

Warna jingga pun terkikis secara perlahan

Gelap mulai membayangi senja

Meski begitu, keindahan senja tidak akan ada yang menggantikan

Meski gelap semakin pekat”

Lukaku Diusap Sang Bulan

“Aku melihat senyuman manis sang bulan seakan-akan menyapaku

Senyumannya terlihat sangat indah membuat hatiku serasa mekar

Aku pun terdiam

Memandang indah sang bulan yang tidak pernah jemu

Sinarnya seakan-akan mengusir gelap malam ini

Kunikmati cahayanya menghangatkan tubuh dan malamku

Serta hati ini terasa bahagia karena ia menyinari malam ini

Bulan, kenapa kau memandangku seperti itu?

Membuatku tidak mengerti dibuatnya

Bahwa setiap keindahan tidak harus senantiasa didekati

Bahwa keindahan tidak harus senantiasa dimiliki

Namun hanya sekedar untuk dipandang dan dikagumi dari kejauhan”

Potongan Indahnya Surga Nusantara

“Masih dalam renungan sisa-sisa subuh

Kicauan burung pun masih terdengar merdu

Menyanyikan kicau sendu tentang indahnya alam pagi ini

Disana, hamparan surga terlihat sangat indah

Melukiskan keindahan yang tiada tara

Langit pun terlukis indah dengan warna biru

Diiringi dengan arakan awan yang disapu oleh sang angin

Padi-padi menunduk bersahaja

Terhampar di atas hamparan kuningnya alam persawahan

Gagahnya gunung terlihat menjulang ke langit

Serta deretan pepohonan yang hijau berbaris menanti sang surya

Itulah Indonesiaku

Sebagian potongan surga yang Tuhan kirimkan

Itulah Indonesiaku

Indahnya ciptaan tangan Tuhan digoreskan

Itulah Indonesiaku

Hamparannya yang menghias negeri tercinta

Itulah Indonesiaku

Tanah kebanggaan sampai hayat memisahkan”

Awan

“Akulah yang senantiasa bertebaran di angkasa

Berwarna putih, kelabu, dan terkadang hitam

Warna-warna yang membuat menawan

Bentukku yang bergelombang, berombak-ombak seperti air di laut lepas

Tebal namun sangat indah

Bahkan bagaskara pun sampai tidak terlihat

Dan terkadang indahnya pelangi juga terlihat tidak sempurna

Sebab sang selimut yang menutupinya

Jauh di atas sana

Menyelimuti luasnya jagat raya

Ukuran yang tebal tipis

Saling beredar dimana-mana

Indah yang kami ciptakan bukanlah buatan semata

Lembut serta terlihat menawan

Indahnya yang tak bisa dielakkan

Itulah aku, awan”

Kemana Perginya Alamku Yang Lestari

“Sering aku melihat hamparan hijau sawah yang beratapkan birunya langit, namun itu dulu

Sebelah kiri dan kanan sawah membentang, namun itu dulu

Di antara gunung-gunung matahari terbit terlihat malu-malu, namun itu dulu

Sekarang? Kemanakah mereka?

Lapisan tanah senantiasa becek dan berwarna coklat setiap hujan reda

Tanahku sekarang menjadi abu

Tak ku temukan lagi sawah-sawah yang membentang

Burung-burung pun kehilangan rumahnya

Mahoni dan jati ditebang tanpa sisa

Cemara-cemara tak sehijau dahulu kala

Sekarang yang ada adalah longsor dan banjir

Gempa bumi dan tsunami

Kekeringan yang terjadi tiada henti

Oh alamku yang lestari, kemanakah kamu pergi?”

Tetap Menjadi Tatapan

“Menetap atau meratap, 

Yang selalu ditatap tidak berjanji akan menetap,

Alang langit mulai gelap,

Bilaman awan ingin meratap”

Bencana Asap

“Tiada asap tanpa api

Hutan kami telah dikebiri

Dengan cara yg tak manusiawi

Oleh orang-orang berdasi

Mereka musnakan dengan api

tanpa memikirkan hidup kami

Asap telah melanda ke seluruh negri

Tiada lagi oksigen yg kami konsumsi

Bisa bisa kami akan mati

Asap memberi banyak rugi

Paru-paru diserang tanpa negosiasi

anak-anak menjerit sampai ke hati”

Gerimis Tua

“Kepada gerimis

Yang turun dengan sabar

Meski umurmu tua

Kau bahkan lebih tua

Dari bangunan yang kini rapuh

Kepada gerimis

Pernahkah kau mengeluh ?

Ribuan orang, atau hanya segelintir

Tak menginginkan kau hadir

Menganggapmu penyusup ketenangan

Kepada gerimis

Ritmemu memang indah

Menimbulkan riuh sederhana

Selaras dengan gerakan daun

Yang kau jatuhi butir-butir air”

Balada Cinta Dari pulau

“Kali ini aku nyatakan, aku jatuh cinta

“Ya, aku jatuh cinta…”

Saat jumpa pertama pada hari itu

Pesona mu membuat hati ini bertanya, apakah ini surga ?

Hamparan laut biru nan luas..

Terbentang sejauh biji mata memandang

Serta gemulai lambaian daun nyiur

Seakan sampaikan salam selamat datang”

Lima Senja Di Tanah Nirwana

“Senja pertama karam di Bumi Cendrawasih

Perlahan beranjak tinggalkan Raja Ampat nan terkasih

Senja kedua terbenam di Pulau Rempah juga Celebes

Menguntai indah bak madu melebur hiasi Bunaken

Senja ketiga kembali temaram di Tanah Borneo

Bertahta di cakrawala khatulistiwa, diiringi mega merah angkasa

Hingga tampak kilau emas di sepanjang Kapuas dan Barito”

Sawah

“Sawah di bawah emas padu,

Padi melambai,melalai terlukai,

Naik suara salung serunai,

Sejuk di dengar,mendamaikan kalbu.

Sungai bersinar,menyilaukan mata,

Menyamburkan buih warna pelangi,

Anak mandi bersuka hati,

Berkejar-kejaran berseru gempita.

Langit lazuardi bersih sungguh,

Burung elang melayang-layang,

Sebatang kara dalam udara.

Desik berdesik daun buluh,

Di buai angin,dengan sayang

Ayam berkokok sayup udara”

Lautan Yang Indah Dan Tenang

“Lautan yang sangat indah dan begitu tenang

Memperlihatkan ikan yang sedang bergurau satu sama lain

Dibalik kokohnya batu karang

Ditemani dengan tanaman laut yang bergerak ke kiri dan kanan sangat indah

Pemandangan itu, membuat terpesona bagi mereka yang melihatnya

Ikan-ikan pun semakin berenang dengan ceria

Air laut pun sangat tenang serta tidak bergelombang

Suasana lautannya pun sangat nyaman dan tenang

Oh lautanku yang sangat tenang dan begitu indah” 

Alam Yang Damai

“Segalanya hancur luluh lantah

Perbuatan sederhana memang

Namun akibatnya sangat fatal, sangat besar

Kelihatannya sangat biasa namun sangat menghancurkan

Udara yang dulu segar, kini menjadi penat

Burung yang dulu berkicau sekarang tak terdengar lagi kicaunya

Api yang terus membara dari waktu ke waktu

Seperti rayap pemusnah

Membuat ribuan orang menanggung kesedihan yang teramat dalam

Tangis-tangis yang menyahat hati tanpa henti

Kesengsaraan yang semakin bertubi-tubi

Bagaikan beban yang berada di atas gunung-gunung menimbun padat

Bagaikan hamparan padang rumput yang subur dan hijau

Sekarang telah berubah menjadi hitam dan tak terlihat

Jernihnya air pun sudah tak terlihat

Berbagai habitat telah pergi mencari perlindungan ke sana ke mari

Jangan pernah salahkan mereka

Jika mereka mengancam warga dan memangsa hewan-hewan ternaknya

Berbuat kerusakan dimana-mana untuk sekedar mencari tempat, mencari makan

Karena kehidupannya telah direnggut oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab”

Tanah Airku

“Duduk terdiam menatap Negeri yang kaya akan makna

Warna coklat dan hijau, memiliki arti kekuatan tersendiri

Seluruh elemen pendukung menghadirkan rasa Tanah air yang semakin kuat

Indonesiaku…

Menjadi topik kebanggaan Negeri

Menjadi salah satu tokoh dalam kekokohan Negara

Menjadi Bapak akan hal keanekaragaman Budaya

Menjadi contoh Negeri yang damai dan sejahtera

Berprinsip membangun Negeri

Banggakah?

Banggakah engkau berdiri di tanah air ini ?

Banggakah engkau mencium aroma frasa pada detak jantung negeri ?

Tuturku berkata “Bangga”.

Negeriku tentang alamku.

Yang menyadarkanku akan hal indahnya alam dari sang maha agung

Cintaku pada alam semakin lekat adanya aroma khas penyejuk kalbu.”

Tentang Frasa Dan Rasa Alamku

“Dari sudut perkotaan yang hingar bingar

Menurunkan radar pada puncak se antero jagat

Tragis! Sorakku berdengung

Menuai hasil buruk setelah dijajah oleh penguasa tak bertuan

Menangis!

Alam mulai menangis

Menyadari bumi yang semakin goyang

Namun, laut menjawabnya

Melalui ombak yang kian menari

Indah jika ku gabungkan bersama lembayung senja

Tropisnya Negeri, meminang aksa untuk berkunjung

Detakmu kini. Membuatku semakin yakin

Akan hal alam yang menyeka ku untuk bersujud.

Terima kasih Alam

Terima kasih Bumi

Engkau menjadi penguat dari kekuatan rasa, cinta manusia pada setitik

kisah dari manisnya lautan hijau”

Inilah Desaku

“Beradu pada kisah perkotaan

Nuansa biru menjadi dominasi penduduk yang damai

Hijaunya pepohonan mengalirkan rasa sejuk di setiap tetes keringat

yang mengucur deras

Inilah aku…

Sebuah tempat kecil yang dihuni oleh sebagian kaum bawah

Namun, aku tak menangis

Bahwa aku mampu membawa mereka pada alamku

Alam desa yang hadir untuk perdamaian

Desa yang memberikan kekuatan pada bumi pertiwi

Airku selalu terasa segar

Tak ada polusi, tak ada pencemaran, dan tak ada keramaian pemberontakan

Inilah aku…

Desa yang penuh kedamaian

Desa yang memiliki topik kerinduan

Desa yang memiliki segala hal dari arti yang dalam tentang alam yang terasa dama” 

Senja Sore Itu

“Kilau cahaya orange menyelimuti sore itu

Indah, tampak indah dan menyilaukan

Anggunmu mengalahkan anggunnya sang dewi

Meskipun hadirmu hanya sebentar 

Namun, kehadiranmu akan selalu dinanti

Elokmu memberikan warna di langit sore itu 

Penuh keagungan dari indahnya ciptaan yang maha kuasa

Penuh rasa syukur kuucapkan karena masih bisa menantimu

Untuk hari esok, esok dan seterusnya

Kini suryamu sudah siap untuk tenggelam

Menjemput rembulan yang akan menerangi malamku 

Menanti pagi dengan munculnya dirimu

Hingga di sore hari ku kembali menantikan dirimu

Lembayung indah nan memanjakan mata 

Gradasi warna yang tak bisa terlukiskan dengan sembarang cat

Sebuah hiasan besar penutup waktu siang”

Bulan Bersamaku

“Senyum manismu menyapaku malam ini

Memancarkan cahaya terang penyejuk jiwa

Sejenak diriku termangu di depan jendela

Memandangmu yang penuh dengan karisma

Bulan bersamaku

Cahaya indah terang nan penuh pesona

Sinarmu yang terpancar mengusir sunyinya malam ini

Memberikan keterangan di dalam jiwa dan malamku

Memberikan semangat yang berkobar agar aku terus berjuang

Merangkai mimpi yang harus kuperjuangkan

Bulan bersamaku

Elok indah rupawan yang tampak menyelimutimu

Meskipun jarak kita jauh

Namun hanya dirimu yang mengertiku hingga kini

Terima kasih bulan

Kau masih setia bersamaku dan menemani setiap kegalauan malamku” 

Bisikan Angin Pantai

“Di tepi pantai kutatap indahnya garis cakrawala itu

Alunan pohon kelapa yang melambai-lambai

Hembusan angin yang berbisik mesra

Membuatku ingin singgah lebih lama lagi

Biru warnamu menyejukkan mata

Panas terikmu membuat rinduku semakin meraja

Bisikan anginmu membuatku terlena

Ya, terlena dengan keindahan kuasa Tuhan yang maha pencipta

Tak henti-henti aku bersyukur menatap keindahanmu

Alunan rindu yang terus menggebu

Terhanyut sepi hembusan angin sore ini

Membuatku semangat untuk melanjutkan hidup lagi”

Bintang Malam Ini

“Kutatap langit malam ini

Gelap, tampak sangat gelap

Takku temukan apapun di sana

Namun,

Saat kulit sepercik cahaya mulai muncul

Sangat kecil dan terlihat sangat jauh

Di bentang langit yang terlihat semu

Cahayamu membuatnya terlihat saagat indah

Membentuk rasi bintang sebagai penunjuk arah

Cahayamu mungkin tak begitu bersinar

Namun kilauan cahayamu memancarkan sebuah harapan

Harapan bagi para pelaut untuk bisa kembali pulang

Bertemu keluarga dan menatap masa depan

Hadirmu juga sebagai petunjuk alam

Sebagai tanda untuk umat manusia mempersaipkan

Bahkan kemarau sebentar lagi datang

Rinduku ini terasa semakin menggebu

Kalau kau datang dengan sedikit cahaya yang terangi malamku”

Indonesiaku

“Kau tumpahkan jiwa dan ragamu untuk kami

Menangis sendirian tiada yang menemani

Menatap sang surya yang kian mewarnai dunia

Memberikan harapan untuk masa depan bangsa

Indonesiaku

Kau terdiri dari ribuan pulau yang berjajar indah

Penuh dengan keindahan alam surgawi

Penuh dengan keanekaragaman hayati

Penuh dengan budaya dan tradisi

Indonesiaku

Kau begitu indah

Kau begitu berarti

Beruntungnya diriku bisa menjadi bagian darimu

Sebuah negara yang seperti surga

Penuh kekayaan alam meskipun belum bisa tertata rapi

Indonesiaku

Teruslah menjadi negara yang maju

Positif sejahterakan rakyatmu nanti

Agar ibu pertiwi bisa tersenyum kembali

Agar kelangan bisa segera usai kini

Tergantikan dengan senyum indah putra putri pertiwi” 

Air Keras

“Seperti air biasa,,

Namun mahal harganya,,

Hingga aku pun dibuatnya bertanya-tanya,,

Apa kelebihanya?? Apa enaknya??

Hingga yang lain pun mulai membeli,,

Mencari,, hingga dapat,,

Setelah dapat,,dan meminumnya,,

Menikmati,, seperti pecinta alam sedang dipuncak gunung,,

Lalu hampa,,terbuang sia-sia,,

Tak sadar dan habis”

Akhir Cahaya

“Seakan dunia sedang tertawa

tergelitik oleh tingkah manusia

sujud punya makna jumawa

zalim kian lazim dan biasa

Maka bumi berguncang manasuka

setelah adil berdiri, cahayanya mati terlindas dusta

Tepat saat itu terjadi,

hari berhenti lalu menyucikan diri”

Sebutir Debu

“Aku hanya sebutir debu yang memburamkan kilau

tak pantas berada diatas suci

tak bisa menghindar

saat angin hembuskan aku untukmu, lalu terbang

Aq hanya kecewa bagai hampa mengharap udara,
atau debu ditengah gersang

mengharap hujan

hentikan angin membawaku terbang”

Tangisan Malam

“Dibawah salah satu sisi langit,

Aku terduduk diantara cahaya bulan dan lampu taman.

Berharap suatu keajaiban kan datang padaku,

Membawa serta alunan sendu dari hati.

Diantara pohon yang menari

Dan diantara para jangkrik penyanyi.

Aku masih menatap langit dengan penuh harap,

Sebuah bintang akan jatuh di hadapanku.”

Minggu Pagi

“Kapan kali terakhir kita merasakan mata yang memandangi sibuknya

urung gereja,

hinggap diantara ruas pohon muda,

tarikan nafas lega sedalam dalamnya,

tak mendengar bunyi klakson dan getar motor menyala,

hanya bunyi ayam jantan dan burung gereja,

masihkah kita sempat menikmati dingin dan malasnya minggu pagi,

Mungkin disaat inilah, kebaikan, kejujuran, rendah hati, keikhlasan, ke pasrahan,” 

Penutup

Nah, bagaimana teman-teman tulisan saya mengenai puisi tentang alam,  selanjutnya saya ingin menulis puisi lainya.

Semoga artikel saya yang satu ini bisa bermanfaan untuk kalian, dan kalau ada salah tulis atau kekurangan lainya mohon commen dibawahy ya.

Terima kasih atas kunjunganya diartikel saya, dan sampai jumpa diartikel saya selanjutnya.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *